Selasa, 08 Januari 2013

Mengkritisi Menjamurnya Bimbel Di Indonesia

Menjamurnya Lembaga Bimbingan Belajar

Ratna Lumban Tobing
Magister Manajemenn Pendidikan
 Universitas Negeri Riau


Abstrak
Artikel ini menjelaskan tentang peran Lembaga Bimbingan Belajar dalam pengembangan pendidikan nasionalia. Lembaga Bimbingan Belajar menjelaskan apa sebenarnya pengertian Lembaga Bimbingan Belajar itu, apa yang menyebabkan Lembaga Bimbingan Belajar menjamur khususnya di Indonesia, dampak positif dan dampak negatif apa yang diterima dengan menjamurnya bimbingan belajar di Indonesia, dan apakah ada titik temu antara lembaga pendidikan formal dan pihak orangtua/siswa dengan lembaga bimbingan belajar untuk menyukseskan tujuan pendidikan nasional. Diharapkan setelah membaca artikel Diharapkan setelah membaca artikel ini akan menimbulkan pengertian untuk mengkritisi dampak positif dan negatif menjamurnya lembaga bimbingan belajar di Indonesia.
 Kata Kunci: lembaga bimbingan belajar dan menjamurnya
                                                                                                                         
Abstract
This article describes the role of institutions in the development of education Tutoring nasionalia. Tutoring Institute explains what exactly Tutoring Agency's understanding, what causes Tutoring Institute mushroomed, especially in Indonesia, the positive and negative impacts of what is acceptable to the proliferation of tutoring in Indonesia, and whether there is common ground between formal institutions and the parents / students with tutoring agencies for the success of national education goals. Expected that after reading this article will cause understanding to scrutinize the impact of positive and negative proliferation tutoring agencies in Indonesia.
Key Words: tutoring agencies and proliferation

1.      Pendahuluan
Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) di Indonesia menjadi satu fenomena menarik bagi dunia pendidikan saat ini. Lembaga Bimbingan belajar (LBB) atau sering disingkat Bimbel menjamur di mana-mana, baik yang dikelola perorangan maupun kelompok, mulai dari privat sampai dengan proses pembelajaran di Ruko yang ber AC. Hingga kini masih banyak tempat- tempat Bimbingan Belajar dengan nama baru bermunculan dengan menawarkan berbagai macam program unggulan. Bahkan penulis sendiri berprofesi sebagai salah satu guru Bimbingan Belajar SD sampai SMP yang dikelola pribadi penulis. Bimbingan Belajar menjadi lahan yang subur bagi bisnis pendidikan.
Berdasarkan data Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan Indonesia, pada  tahun 2012 tercatat, lembaga bimbingan belajar sebanyak 13.446, sebanyak 11.207 lembaga atau sekitar 83,35% diantaranya telah memilki izin operasi. Sementara jumlah peserta Bimbingan Belajar mencapai 1.348.565 orang. Terdiri dari siswa SD sampai jenjang pendidikan tinggi. Siswa pada jenjang SMA menempati urutan pertama yaitu sebesar 45,51%, kemudian diikuti tingkat pendidikan SMP sebesar 22,97%, SD 17,84%, S2/S3 sebanyak 10,11%. Penulis pernah membaca iklan di koran dan yang ditempel di pohon-pohon jalan raya tentang bimbingan belajar membaca, menulis, dan berhitung bagi anak TK. Bahkan saat ini telah dibuka bimbingan belajar untuk anak pra-TK  seperti Lembaga Bimbingan Belajar Kumon.
Disebut-sebut bahwa penyebab tumbuh suburnya berbagai Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) di Indonesia karena ketidakpuasan siswa dan orangtua terhadap kualitas pembelajaran di sekolah, seperti kemampuan guru yang terbatas, kurangnya fasilitas belajar yang memadai, serta tuntutan kurikulum yang tidak realistis. Semakin tingginya kesenjangan antara soal mata pelajaran yang dipelajari disekolah dengan kualitas soal yang diterapkan dalam seleksi masuk sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia.
Peran sekolah, walaupun belum tergantikan, kian tersaingi oleh maraknya Lembaga Bimbingan Belajar. Kini, Lembaga Bimbingan Belajar semakin kreatif dan variatif dalam memberikan pelayanan kepada siswa serta memahami kebutuhan siswa. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial antara pihak Lembaga Pendidikan Formal, Lembaga Bimbingan Belajar serta pihak Orangtua Siswa/murid.

2.      Hasil Penelitian Dan Pembahasan
a.      Lembaga Bimbingan Belajar  (Hasil Penelitian)
1.      Pengertian Lembaga Bimbingan Belajar (LBB)
Menurut Jones (2011), Lembaga Bimbingan Belajar adalah, suatu Lembaga Pendidikan Informal yang  memberikan bantuan kepada orang lain dalam menentukan pilihan dan pemecahan masalah dalam kehidupannya melalui guru pembimbing yang kompeten. Menurut Crow dan A Crow (2011), Lembaga Bimbingan Belajar adalah, suatu Lembaga Pendidikan Informal yang memberikan bantuan kepada orang lain melalui orang-orang yang telah terdidik dan terlatih.
Dapat disimpulkan bahwa, Lembaga Bimbingan Belajar adalah  Lembaga Pendidikan Informal yang di buat untuk membantu siswa dalam menempuh pendidikan Formal melalui guru pembimbing yang kompeten. Lembaga Bimbingan Belajar turut berperan dalam mencerdaskan anak bangsa.
Lembaga Bimbingan Belajar cenderung sebagai tempat pelarian siswa yang kurang di dalam lembaga formal yang bernama sekolah. Selain itu, Lembaga Bimbingan Belajar juga memiliki tanggung jawab besar karena mengemban kepercayaan orang tua dan wali untuk meningkatkan kemampuan anaknya dibidang akademik,  moral, sosial, dan agama serta pendidikan kemandirian.

2.      Latar Belakang Adanya Lembaga Bimbingan Belajar (LBB)
Menurut Tilaar (2000), beberapa agenda persoalan pendidikan di Indonesia yang menonjol yang harus segera diselesaikan adalah, pertama: Masih rendahnya pemerataan memperoleh pendidikan; Kedua: masih rendahnya kualitas dan relevansi pendidikan; dan ketiga: Masih lemahnya manajemen pendidikan, di samping belum terwujudnya kemandirian dan keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan akademisi.
Oleh karena itu maka dalam rangka mencapai tujuan Pembangunan Nasional khususnya bidang pendidikan yaitu, untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadai warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Maka seluruh stakeholders pendidikan, baik warga sekolah dan warga masyarakat harus bekerjasama dengan baik.
Salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam rangka meningkatkan kualitas proses belajar mengajar adalah dengan mempertinggi tingkat partisipasi masyarakat dalam pendidikan khsususnya didirikannya Lembaga Bimbingan belajar.
Menurut Penulis, latar belakang menjamurnya Lembaga Bimbingan yaitu, antara lain:
a.       Masih Lemahnya Mutu Pendidikan Formal Di Indonesia
Ada dugaan bahwa orangtua siswa yang mengirimkan anaknya untuk mengikuti Bimbingan Belajar cenderung tidak percaya bahwa pembelajaran di sekolah mampu membawa anaknya dapat lebih berprestasi karena siswa yang ikut bimbingan belajar kebanyakan justru dari sekolah-sekolah favorit yang kemampuan akademiknya justru relatif baik.
Hal ini didukung oleh :
1)      Pemerintah menerapkan kebijakan nilai Unas sebagai penentu utama kelulusan siswa.
2)      Tuntutan persaingan memperebutkan sekolah favorit, mendapatkan nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) yang optimal
3)      Kurikulum yang terus berubah tiap tahun
4)    Keterbatasan jam pelajaran di sekolah
Ketergantungan ini diperparah sekolah yang cenderung mengutamakan transfer ilmu pengetahuan tanpa penanaman nilai. Akibatnya, proses pendidikan timpang. Di sisi lain, antara sekolah dengan Bimbingan Belajar terjadi missing-link, dimana materi maupun trik yang didapatkan di bimbel justru tidak diajarkan disekolah. Kegiatan belajar mengajar di lembaga bimbingan belajar berfokus pada pencapaian nilai ujian tertinggi yang mengajarkan cara cepat menyelesaikan soal-soal ujian melalui konsep drilling.
Lembaga Bimbingan Belajar juga menjanjikan kualitas pembelajaran dan target output, serta janji pelayanan dengan metoda pembelajaran yang up to date. Metode pembelajaran yang diberikan lebih menjanjikan bagaimana siswa dapat belajar efektif, cerdas dan penerapan strategi belajar cepat, dimana metode tersebut tidak di dapatkan siswa disekolah.
Bukan itu saja, ada paket pendamping belajar siswa dengan memberi pelayanan konseling dan pemecahan masalah siswa.
Di samping itu, pembelajaran didukung dengan fasilitas lengkap yang merangsang siswa belajar asyik. Terbayang, siswa masuk bimbel sudah terarah pada tujuan dan target belajar yang jelas hendak didapat siswa.

b.   Memudarnya Tanggungjawab Orangtua Dalam Membimbing Anaknya
Menurut Sleman, Kompas (2010), peran orangtua sebagai pendidik utama anak dinilai memudar karena orangtua semakin bergantung pada lembaga pendidikan di luar keluarga seperti sekolah atau bimbingan belajar. Padahal, pendidikan dalam keluarga merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan anak.
Konsultan Pendidikan Sofyan (2010) juga mengatakan, saat ini orangtua terlalu mengandalkan sekolah. Kalau anak menemui kesulitan belajar di sekolah, mereka lalu memasukkan ke Lembaga Bimbingan Belajar. Orangtua memegang peran terpenting dalam segala bidang kehidupan anak termasuk pendidikan sehingga idealnya sekitar 60-70 persen waktu anak berada dalam interaksi dengan orangtuanya. Sejumlah penelitian dan kajian psikologis menunjukkan, anak yang berhasil dan berprestasi di sekolah memperoleh cukup perhatian dan kasih sayang dari orangtua.
Ketergantungan orangtua pada Lembaga Pendidikan dapat berakar dari ketidakmampuan orangtua menjadi teman belajar anak, orangtua terlalu sibuk dan alasan tidak mau repot.

c.  Para Siswa Mengalami Kesulitan Menyerap Pelajaran Di Sekolah Formal
Menurut Djumhur dan Surya ada dua faktor yang timbul dalam kesulitan belajar anak, yaitu (1975), faktor Endogen dan Faktor Eksogen.
Faktor endogen ialah faktor yang datang dari anak itu sendiri, hal ini dapat bersifat biologis, ialah hambatan yang bersifat kejasmanian dan fisikologis, ialah hambatan yang bersifat kejiwaan.
Faktor eksogen ialah hambatan yang dapat timbul dari luar diri anak, faktor ini meliputi faktor lingkungan keluarga dan sekolah.
Penelitian   bahwa setiap anak mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.
Hasil penelitian menyatakan bahwa setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda
1)            50% adalah pelajar visual (penglihatan), anak lebih menyukai dan mengerti gambar-gambar, grafik, dan tulisan di buku dibandingkan dengan ceramah.
2)            30% adalah pelajar kinestetik (perabaan, gerakan), anak lebih membutuhkan aktivitas yang berdasarkan perabaan dan pergerakan.
3)            20% adalah pelajar auditori (suara/pendengaran), anak belajar dengan baik ketika mereka berbicara tentang apa yang anak pelajari
4)            Otak bekerja lebih baik saat berada pada keadaan emosi yang positif. Murid harus merasa aman secara fisik dan emosi sebelum otaknya siap untuk belajar. Guru bisa membuat situasi lingkungan belajar yang positif dengan memberi dorongan dan pujian pada usaha –usaha yang dilakukan murid.
5)            Otak belajar informasi baru melalui modul-modul kecil. Penelitian tentang otak menyatakan bahwa anak-anak usia antara 5-13 tahun belajar paling baik saat mereka diberi informasi 2-4 modul. Anak-anak usia 14 ke atas bisa belajar sampai dengan 7 modul pada saat yang sama. Guru harus merencanakan batasan ini dan mengajarkan materi dalam bentuk modul-modul kecil.
6)            Murid memerlukan sedikit waktu untuk mengistirahatkan otaknya terhadap tugas tertentu. Memberi waktu bebas antara satu pelajaran ke pelajaran lain bisa meningkatkan fokus murid. Sebagai contoh, memberi murid waktu untuk berdiri dan meregangkan otot, mengobrol sekitar 2 menit, dan lain-lain. Otak akan lebih siap untuk tugas dan menyimpan informasi.
7)            Menyediakan ruang pribadi yang cukup untuk murid. Lebih banyak ruang pribadi mengurangi ketegangan pelajar.

3.      Status Hukum Lembaga Bimbingan Belajar (LBB)
Pengertian kursus dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda, dan Olahraga (Kepdirjen Diklusepora) Nomor: KEP-105/E/L/1990 sebagai berikut:
Kursus pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan masyarakat selanjutnya disebut kursus, adalah satuan pendidikan luar sekolah yang menyediakan berbagai jenis pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental bagi warga belajar yang memerlukan bekal dalam mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Kursus dilaksanakan oleh dan untuk masyarakat dengan swadaya dan swadana masyarakat.
Dari beberapa informasi tersebut diatas maka jelas bahwa keberadaan Lembaga bimbingan Belajar adalah resmi, legal, sah dan diatur dalam Undang-undang Negara Republik Indonesia.

4.      Tujuan Lembaga Bimbingan Belajar (LBB)
Tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai Lembaga Bimbingan Belajar. Yang membedakan diantara keduanya ialah jenis kegiatannya, pendidikan terletak pada proses belajar mengajar yang penekanannya pada usaha-usaha kognitif,afektif dan psikomorik, sedangkan bimbingan terletak pada membina siswa dalam perkembangan pribadi, sosial psikologi, yang didasarkan pada kenyataan yang dihadapi siswa sehingga memerlukan bantuan tenaga profesional kependidikan dalam hal ini adalah guru pembimbing.
Pada Umumnya, kurikulum Lembaga Bimbingan Belajar mengacu pada kurikulum yang di berikan oleh pemerintah untuk mensinkronkan dengan kurikulum sekolah agar anak dapat mengulang dan menanyakan kembali materi yang sulit di mengerti di sekolah.

5.   Penyelenggara Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) Secara Akademis
Penyelenggara Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) seharusnya adalah orang-orang yang kompeten. Rata-rata tenaga pengajar adalah para alumni dari Ilmu Keguruan namun ada juga dari fakultas yang bukan Ilmu Keguruan seperti Fakultas Tehnik, Fakultas Kedokteran, dan sebagainya. Hal ini dapat berdampak positif karena siswa dapat diajar oleh guru dengan ilmu berbeda-beda dengan kajian ilmu yang berbeda.
Kemudian, diterapkannya sistem pembelajaran yang menyenangkan. Sistem pembelajaran yang menyenangkan adalah suatu kesatuan yang terdiri dari sumber belajar, lingkungan belajar dan proses interaksi yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi dari pendidik kepada peserta didik untuk mencapai suatu tujuan dengan cara peserta didik dilibatkan secara penuh dalam pembelajaran sehingga terciptanya makna, pemahaman dan nilai yang membahagiakan dalam diri anak didik. Antara anak didik dan pendidik terjalin kemitraan karena pendidik memposisikan diri sebagai fasilitator atau agen pembelajaran, mengajari anak bagaimana belajar (learning how to learn).

6.      Cara Kerja Lembaga Bimbingan Belajar (LBB)
Kian variatifnya pelayanan yang diberikan bimbingan belajar tak lepas dari kebijakan ujian nasional untuk SMP dan SMA serta ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) untuk sekolah dasar. Pihak Bimbingan Belajar mengambil peluang itu untuk memberikan jasa pelayanan membantu anak lulus ujian nasional dan UASBN serta kemudian mendapatkan sekolah favorit. Pada Umumnya, servis pelayanan kepada anak tergantung seberapa besar biaya yang harus dibayar.
Di Lembaga Bimbingan Belajar yang bergengsi, selain layanan pendalaman materi dan pelatihan mengerjakan soal, Bimbingan Belajar juga menyediakan pula Layanan Bimbingan Konseling. Siswa dapat bertemu guru konseling yang berlatar belakang pendidikan psikologi untuk membicarakan kesulitan belajarnya. Sebelum masuk ke bimbingan belajar itu, siswa wajib mengikuti tes psikologi guna melihat minat dan kecenderungan gaya belajar anak.
Bahkan Relasi guru dan murid baik dan dekat karena satu kelas dengan satu guru maksimal berisi lima anak untuk kelas eksekutif, 10 anak untuk kelas reguler dan 20 anak untuk kelas biasa. Pengelompokan ini bertujuan agar guru mengenal kebiasaan dan karakter peserta bimbingan belajar. Hal ini berbeda dengan kondisi Pendidikan Formal pada umumnya yang menampung murid dari 20 sampai 40 murid dalam satu kelas.
Untuk menarik minat anak dan orangtua, Lembaga Bimbingan Belajar menyelenggarakan training motivasi, seminar pola asuh anak yang melibatkan orangtua peserta, fasilitas call to home atau laporan dari pihak bimbingan belajar ke orangtua satu bulan sekali, dan pengiriman pesan harian lewat telepon seluler bagi anak yang tidak datang atau sering telat masuk kelas.
Ada pula kegiatan belajar mengajar keagamaan, misalnya mengajarkan Shalat, yakni 15 menit untuk shalat secara bergantian. Di samping itu, terdapat pelayanan Guru Jaga setiap hari yang dapat dimanfaatkan murid untuk bertanya, klinik belajar, konsultasi kesulitan belajar, dan laporan perkembangan akademik. Memberikan modul lengkap yang sistematis, kuis, tes formatif, dan evaluasi secara berkala.

b.      Dampak Lembaga Bimbingan Belajar (Pembahasan)
1.      Dampak Positif Menjamurnya Lembaga Bimbingan Belajar
a)      Bagi Orangtua dan Siswa (Pengguna)
Anak dan orangtua atau pengguna jasa Lembaga Bimbingan Belajar yang paling berhak menilai seberapa besar manfaat Lembaga Bimbingan Belajar.
Manfaat positif Lembaga Bimbingan Belajar yanga umum dinikmati adalah:
1)      Membiasakan anak untuk selalu rajin belajar baik disaat di sekolah maupun diluar sekolah.
2)      Membantu meningkatkan daya juang siswa, dimana anak-anak yang ikut bimbingan belajar sehabis pulang sekolah bukannya langsung tidur siang tetapi belajar ke Lembaga Bimbingan Belajar.
3)      Sebagai “tempat bermain” yang positif, dimana banyak orangtua, ayah dan ibu, yang kedua-duanya sibuk mencari nafkah diluar rumah. Sehingga sebagian orangtua siswa bimbingan belajar menganggap Lembaga Bimbingan belajar adalah “Taman Pintar” bagi putra-putrinya.
4)      Mengurangi rasa cemas menghadapi Ujian Nasional dan menambah rasa percaya diri menghadapi momentum tes.

b)         Bagi Pendidikan Formal
Manfaat Positif yang dirasakan Pendidikan Formal melalui Lembaga Bimbingan belajar adalah baik secara langsung maupun tidak langsung adalah:
1)      Membiasakan belajar antar siswa antar sekolah agar terjadi jaringan antar pelajar antar sekolah untuk mengurangi perkelahian pelajar antar sekolah dan menciptakan keakraban tanpa membedakan sekolah.
2)      Membiasakan berkompetisi antar siswa antar sekolah agar mengasah kemampuan dalam lingkup yang lebih luas.
3)      Mengurangi angka ketidaklulusan suatu sekolah dan suatu daerah.
4)      Meningkatkan kecerdasan dan nilai para siswa di sekolah sehingga jika anak berprestasi maka akan mengharumkan nama sekolahnya.

c)      Bagi Masyarakat Umum
Manfaat Positif yang dirasakan Pendidikan Formal melalui Lembaga Bimbingan belajar adalah baik secara langsung maupun tidak langsung adalah:
1)      Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat
2)      Mempertemukan orang-orang yang hobi mengajar secara profesional dan bertanggungjawab, baik dari kalangan ilmu keguruan maupun dari kalangan non keguruan (universitas non kependidikan) dengan rukun dan duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan satu tujuan siswa-siswanya semangat belajar dan berprestasi.

2.   Pengaruh Negatif Menjamurnya Lembaga Bimbingan Belajar
a)      Lembaga Bimbingan Belajar Merupakan Bisnis Pendidikan
Lembaga Bimbingan Belajar tidak dapat berdalih, bahwa LBB ini merupakan bisnis pendidikan sehingga menggunakan prinsip perdagangan berupa iklan yang bombastis, diskon harga, menawarkan fasilitas dan pelayanan yang terbaik, pendekatan kepada sekolah-sekolah, memberikan beasiswa, dan sebagainya.
Bagi Bimbingan Belajar, memperoleh siswa yang pintar adalah berkah atau aset yang berharga, sebab keberhasilan siswa tersebut masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi (SMP/SMA/PTN) akan mengangkat nama lembaga tersebut. Lembaga Bimbingan Belajar akan mengklaim inilah siswa-siswa mereka yang berhasil masuk sekolah atau PTN favorit. Kadang-kadang siswa yang mendapat ranking di sekolah ternama atau favorit dibebaskan dari biaya Bimbingan Belajar atau diberi potongan harga yang besar agar siswa tersebut tertarik masuk.
Tidak mengherankan beberapa Lembaga Bimbingan Belajar bukan saja memberikan potongan harga atau diskon besar tetapi juga jaminan atau garansi mendapat nilai A atau lulus disekolah favorit, jika tidak maka biaya Bimbingan Belajar akan dikembalikan.
Kurang tegasnya sanksi hukum bagi Lembaga Bimbingan belajar terbukti dari begitu mudahnya membuka Lembaga Bimbingan Belajar, membuat beberapa Lembaga Bimbingan belajar melakukan penipuan dan kecurangan. Misalnya, promosi iklan yang ditawarkan tidak sejalan dengan prakteknya. Namun sejauh ini, belum ada pemberitaan yang fenomenal yang disoroti karena kecurangan dan penipuan Lembaga Bimbingan Belajar di Indonesia.


b)   Biaya Pendidikan Anak Membengkak
Menjamurnya Bimbingan Belajar membuat biaya yang dikeluarkan oleh orang tua untuk pendidikan kian membengkak, pendidikan semakin mahal dan eksklusif, dimana harga bimbingan belajar per semester cukup fantastis. Mulai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah sesuai kelasnya. Mulai kelas biasa hingga kelas kesekutif.
Meskipun pemerintah menyatakan bahwa ujian nasional di semua tingkatan gratis, tetap saja orangtua murid mengeluarkan biaya yang cukup besar dalam bentuk seperti pembayaran uang bimbel dan try out untuk menghadapi ujian nasional tersebut. 
Padahal, esensi Bimbingan Belajar dan Try Out sebenarnya bisa dilakukan secara murah dan efektif lewat internet. Oleh karena itu tidak heran jika kemudian terdapat penelitian (2002) mengungkapkan, “Biaya terbesar orang tua atau masyarakat dalam pendidikan anak-anak mereka bukan di sekolah melainkan untuk Lembaga Bimbingan Belajar (LBB).

c)   Bimbingan Belajar Menjadi Salah Satu Tren Pendidikan
Bimbingan Belajar bukan hanya untuk siswa yang merasa diri lemah, tetapi siswa-siswa yang otaknya pintar pun tidak mau ketinggalan ikut Bimbel. Menurut pengamatan penulis, penyebabnya adalah karena kurang percaya diri (PD) sehingga ikut trend teman-temannya yang les di Bimbingan Belajar. Persaingan memperebutkan sekolah favorit di tingkat SMP dan SMA berdasarkan nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) telah membuat banyak siswa-siswa yang sebenarnya tidak perlu Bimbingan Belajar akhirnya memohon kepada orangtuanya agar ikut Bimbingan Belajar karena kurang percaya diri bahwa les tambahan yang disediakan sekolah sudah cukup membantu mempersiapkan dirinya menghadapi Ujian Akhir Nasional.

3.      Titik Temu Antara Lembaga Pendidikan Formal  Dan Pihak Orangtua/Siswa Dengan Lembaga Bimbangan Belajar Untuk Menyukseskan  Tujuan Pendidikan Nasional
Titik Temu ketiga pihak di atas dijabarkan penulis sebagai berikut:
a.       Diperlukan peranan Pemerintah dalam mengatur semua lembaga pendidikan nasional di Indonesia. Pemerintah wajib sebagai moderator untuk terjalinnya kerjasama antar lembaga pendidikan. Menertibkan Lembaga informal dan nonformal guna terwujudnya tujuan pendidikan nasional
b.      Peranan Pendidikan Formal sebagai lembaga resmi Negara untuk mencerdaskan anak bangsa harus selalu berbenah diri dan tidak dapat melimpahkan tanggung jawab pendidikan yang diembannya kepada Lembaga Bimbingan belajar.
c.       Peranan Orangtua sebagai pendidik yang pertama dan utama tidak dapat digantikan oleh pendidikan lainnya.
d.      Bahwa kemajuan generasi muda anak bangsa itu tanggungjawab bersama, maka perlu kerjasama dan komunikasi yang baik antara sistem Pendidikan Formal, Nonformal, Informal dan masyarakat sebagaimana telah diatur di dalam Undang-Undang.
e.       Fakta membuktikan bahwa ada Lembaga Bimbingan Belajar yang baik dan bermasalah sama seperti ada Lembaga Pendidikan Formal yang baik dan bermasalah. Semua bidang kehidupan juga selalu mempunyai sisi positif dan sisi negatif, sehingga diperlukan pemikiran yang lebih objektif, kritis, intelektual, proporsional dan profesional dari semua pihak untuk menilai masing-masing pihak, baik Lembaga  Pendidikan Formal, Lembaga Bimbingan Belajar dan Pihak Orangtua dan Anak (Pengguna)
f.       Bahwa mencari pekerjaan yang layak seperti membuka Lembaga Bimbingan belajar adalah hak setiap orang selama tidak melanggar norma-norma sosial kemasyarakatan dan norma hukum yang berlaku pada suatu negara.
g.      Lembaga Bimbingan Belajar dituntut untuk tidak hanya mencari keuntungan namun dituntut untuk menolong masyarakat dengan cara memberikan biaya yang relatif terjangkau sehingga semua lapisan masyarakat dapat mengenyam bimbingan pendidikan.
h.      Bahwa menuntut ilmu itu hak setiap orang, termasuk bagi orang yang belum cerdas maupun yang telah cerdas sekalipun. Siswa yang posisinya rangking satu dikelaspun tidak ada larangan ikut bimbingan belajar apalagi yang belum juara. Ini berarti tidak selamanya saat ada siswa masuk ikut bimbingan belajar bisa disimpulkan bahwa sekolahannya dan gurunya sedang bermasalah.
i.        Dibutuhkan kesadaran dan kemauan yang keras bagi setiap anak untuk meraih ciata-citanya. Lingkungan adalah faktor kedua dalam keberhasilan, karena faktor pertama adalah dari diri sendiri.

4.      Simpulan Dan Saran
a.   Simpulan
Akhir artikel ini, Penulis memberikan kesimpulan, antara lain:
a.       Diperlukan peranan Pemerintah dalam mengatur semua lembaga pendidikan nasional di Indonesia. Pemerintah wajib sebagai moderator untuk terjalinnya kerjasama antar lembaga pendidikan. Menertibkan Lembaga informal dan nonformal guna terwujudnya tujuan pendidikan nasional
b.      Peranan Pendidikan Formal sebagai lembaga resmi Negara untuk mencerdaskan anak bangsa harus selalu berbenah diri dan tidak dapat melimpahkan tanggung jawab pendidikan yang diembannya kepada Lembaga Bimbingan belajar.
c.       Orangtua perlu menyadari abhwa peranannya sebagai pendidik yang pertama dan utama tidak dapat digantikan oleh pendidikan lainnya.
d.      Sekelumit permasalahan pendidikan dan permasalahan dalam masyarakat  Indonesia seharusnya menjadikan Lembaga Bimbingan Belajar sebagai sebuah jalan keluar yang mudah dijangkau oleh semua orang agar hak atas pendidikan dengan harga terjangkau dan mempunyai kualitas yang dapat dipertanggung jawaban bisa dimiliki setiap orang. 
e.       Lembaga Bimbingan Belajar seharusnya tidak hanya memikirkan kepentingan bisnisnya semata namun bisa memberikan nilai lebih kepada para orang tua yang menitipkan anak-anak di sebuah Bimbingan Belajar. Sehingga cita-cita Indonesia untuk memiliki kualitas sumber daya manusia yang bagus serta dapat bersaing dalam dunia global ini mampu dicapai melalui perpanjangan tangan Lembaga Bimbingan Belajar.

b.                  Saran
Melalui artikel ini, penulis memberikan saran-saran kepada:       
Pertama, kepada para pengajar dan pendiri lembaga bimbingan belajar untuk mengutamakan pendidikan nasional disamping bisnis pendidikan.
Kedua, kepada pendidika formal untuk senantiasa melakukan inovasi dalam mengajar serta menjalin kerjasama dengan lembaga bimbingan belajar disekitarnya.
Ketiga, kepada semua orangtua/siswa bahkan lapisan masyarakat untuk selalu kritis, menjalin kerjasama dengan pendidikan formal dan lembaga bimbingan belajar untuk kemajuan pendidikan anak/siswa.

Daftar Pustaka

Djumhur dan Moh. Surya (1975), Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, CV. Ilmu Bandung.

Harian Neraca.co.id/2012, diakses tanggal 1 Desember 2012, diakses tanggal 30 November 2012

Http:/Caray_Bimbingan Belajar.blogspot.com/2011. Diakses pada tanggal 1 Desember 2012.

Http://klikdiksos.blogspot.com/2008/04/sekolah-tersaingi-bimbingan-belajar.html, diakses pada tanggal 30 November 2012

Http://universclicks.files.wordpress.com/2009/09/sleep-learning.jpg, Diaksespada tanggal 30 November 2012

Iyan Sofyan, 2010, Seminar Pendidikan "Lima Peran Strategis Orangtua agar Anak Siap Hadapi Ujian Nasional" yang diselenggarakan Edukasia Training Center di Sleman, DI Yogyakarta: Kompas.com, diakses pada tanggal 22 Februari 2010.

Jones, J, Konsep Dasar bimbingan Belajar, Diposkan Oleh Caray,  Http:/Caray_Bimbingan Belajar.blogspot.com/2011. Diakses pada tanggal 1 Desember 2012.

L.D Crow dan A Crow, Konsep Dasar bimbingan Belajar, Diposkan Oleh Caray, Diakses tanggal 1 Desember 2012.

Nathan, Menjamurnya Bimbel Bikin Kantong Jebol, http://Lembaga Bimbingan Belajar (LBB)/2002/Komunikasi Organisasi.Html, diakses pada tanggal 1 Desember 2012.

Sleman, 2010, Peran Orangtua Mendidik Anak Pudar: Kompas.com, Diakses pada Tanggal  22 Februari 2010.

Tilaar, HAR. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 2000.

Uaksena, 2011, Artikel Ilmu Pendidikan,  e-Learning Ilmu Pendidikan/2009-2012/202/Prestasi Belajar Tergantung Bimbingan Orangtua.html, diakses tanggal 1 Desember 2012.


4 komentar:

  1. JASA KONSULTAN PENDIDIKAN BIMBEL DAN MOTIVATION CHARACTER BUILDING
    Bersama BKB XPERT MULTITALENTA INDONESIA BOGOR
    FOKUS, TOTAL DAN GEMILANG
    Bimbel Plus Kharismatik dan Ternama di Bogor (Spesialis Privat)
    Melayani Jasa layanan Tambahan :
    1. Pendampingan Siswa Berprestasi dalam Kompetisi Olimpiade MIPA SD-SMP-SMA
    2. Program Privat Matematika On Line Jarak Jauh (Pelajar dan Mahasiswa)
    Media Komunikaasi Pembelajaran : Facebook, What’s App, Email, Blog, BBM, Twitter.
    3. Inhouse Training Pembekalan Manajemen Outlet Singkat :
    (Manajemen Praktis dan Aneka Tips Jitu Buka Usaha Franchise Bimbel Plus Rumahan)
    Harga Paket Starter Kit Bisnis Hanya Rp. 300.000,- (Bebas Ongkir Wilayah Jabotabek)
    4. Pembuatan Soal-Soal Ulangan harian, Try Out Ujian Semester, Soal Ujian Nasional dan Soal SBMPTN beserta Soal Kisi-Kisi/ Prediksi Plus Soal
    5. Pendidikan Pembangunan Karakter Anak (Motivation Building) Paket Outbound Training Pengurus Organisasi RT/RW, OSIS Sekolah, Organisasi Kemasyarakatan, Perkantoran dan Instansi Pemerintahan. (Bersama Tim Independen Golden Training)
    6. Sales Modul Mata pelajaran Lengkap SD, SMP, SMA.
    7. Sales CD Multimedia Zenius Learning (Semua Mapel Lengkap Per Jenjang kelas)
    Solusi Bijak Investasi dan Berprestasi (Tunggu Apa lagi Daftarkan Sekarang Juga)
    Kami hanya melayani Pelanggan yang serius dan berminat.
    HUBUNGI SEGERA : IBU YENI SURYANI (Head of Academic and Finance)
    HOT LINE NEWS : HP. 08561321290/HP. 087874078105/HP.081293737515
    email : xpertbogor@gmail.com, wisnuxpert@yahoo.com
    webblog : bkbxpertbogor.blogspot.com

    BalasHapus
  2. terimakasih atas uraiannya yang sangat lengkap

    BalasHapus
  3. terimakasih atas uraiannya yang sangat lengkap

    BalasHapus