Selasa, 08 Januari 2013


Studi Eksegesa Matius 24:36-44 Tentang Hari Kedatangan Tuhan Yang Kedua Kali

Ratna Lumban Tobing
Magister Manajemen Pendidikan
Univesitas Negeri Riau (UNRI)

Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu
Pengampu: Dr. Hasnah Faizah AR, SPd., MHum.

Abstrak
Artikel ini menjelaskan tentang kedatangan Anak Manusia tidak terduga, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Bapa. Keadaan manusia di zaman akhir ini digambarkan seperti keadaan manusia di zaman Nuh, manusia cenderung bersikap acuh tak acuh tentang hari dan saat kedatangan Anak Manusia yang kedua kalinya. Terbenam dalam hidup keduniawian, sehingga hari dan saat itu datang menjadi kekejutan. Barangsiapa yang tetap berjaga-jaga dan siap sedia akan dibawa dan sebaliknya, yang terlena akan ditinggalkan. Diharapkan setelah membaca artikel ini akan dapat memberikan sumbangsih bagi pembaca dan gereja, menyangkut pengajaran pastoral dan eskatologi bagi jemaat Tuhan serta sekaligus untuk mengkounter setiap ajaran-ajaran yang menyangkut hari kedatangan Tuhan yang kedua kali.
Kata Kunci: Eksegesa Matius 24:36-44 dan Kedatangan Tuhan Yang Kedua.

Abstract
This article describes the unexpected coming of the Son of Man no one knows expect God of Father. The human conditions in the last days described as the human conditions in the days of Noah, people tend tobe indifferent about the days and the coming of the Son of Man at the second time. Immersed in worldly life, so that day and when in comes to horror. Those who remain on guard and ready will be taken and vice versa. Which will drift left. Expected that after reading this article will be able to contribute to the reader and the church, pastoral and teaching concerning enchatology to the church of God and also counter and teachings concerning the day of the Lord’s second coming.
Keywords: Eksegesa Matthew 24:36-44 and second coming of Lord.

1.      Pendahuluan
Pertanyaan “kapan Tuhan datang kembali” merupakan hal yang penting dan menarik dibicarakan sepanjang masa. Saat ini masyarakat dunia kembali digemparkan dengan sebuah film yang berjudul 2012 yang menceritakan tentang akhir zaman yang bertepatan dengan ramalan suku Maya dimana matahari akan mengalami kesejajaran planet-planet lain sehingga meledak dan menghancurkan bumi. Meskipun 2012 tersebut hanyalah sebuah film, tetapi memiliki dampak kepada para penonton berupa kekhawatiran dan kebingungan terutama yang tidak memiliki landasan yang kuat mengenai akhir zaman dari sumber yang benar yaitu Alkitab.
Orang percaya memiliki dasar Alkitab yang dapat dipercaya mengenai akhir zaman dan tanda-tanda yang menyertainya. Sumber-sumber lain di luar Alkitab seperti ramalan, buku, film, dan sebagainya yang menyangkut tentang hari kiamat tidak dapat dipercaya kebenarannya.
Tujuan dari artikel ini adalah menjelaskan tentang hari kedatangan Tuhan yang kedua kali yang dijelaskan dalam Matius 24:36-44.

1.      Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode eksegesa. Metode eksegesa adalah metode untuk menggali arti kata dan kalimat dalam Alkitab guna menemukan arti yang sebenarnya dalam Alkitab. Dalam menarik kesimpulan, memakai metode induktif.

2.      Hasil Penelitian Dan Pembahasan
a.      Eksegesa Matius 24:36-44 (Hasil Penelitian)
Injil Matius adalah Injil pertama berupa pengolahan pribadi dari bahan-bahan yang diterima sipengarang langsung  yang disusun secara sistematis dan menarik untuk menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang dinubuatkan oleh nabi-nabi di Perjanjian Lama.
Penulis Injil Matius adalah Matius yang mempunyai nama Ibrani yaitu Lewi anak Alfeus karena memiliki beberapa alasan yaitu: Pertama, Matius adalah salah seorang dari keduabelas murid yang langsung dipilih oleh Yesus yang langsung mendengar pengajaran dari Yesus dan dengan pengilhaman dari Roh Kudus menulis Injil Matius. Kedua, Matius bekerja sebagai pemungut cukai yang pasti adalah orang yang terpelajar, ahli mengarang dan ahli bahasa Ibrani dan Yunani, pandai berhitung dan pencatat yang teliti, dan yang ketiga, didukung oleh tradisi Yahudi dan beberapa bapak gereja mula-mula.
Kedatangan Tuhan yang kedua kali merupakan kedatangan dari sorga dengan otoritas dan kuasa, datang di saat yang tidak dapat diduga sehingga menuntut kesiagaan dari orang percaya. Kata kedua kali berarti Yesus akan datang kembali kebumi dengan fisik yang penuh dengan kemuliaan yang dapat dilihat oleh semua orang, bertujuan untuk menaklukkan segala sesuatu kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan.
Penulis akan menafsirkan Injil Matius 24:36-44 dengan bantuan buku-buku yang mendukung, antara lain: The Analytical Greek Lexicon Revised karangan Harold Moulton diterbitkan oleh Zondervan Publishing House di Michigan tahun 1978, Interlinier dan Konkordansi Perjanjian Baru jilid I dan II karangan Hasan Susanto diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia di Jakarta tahun 2003, Kamus English-Indonesia, Phoenix Advanced Dictionary diterbitkan oleh Pustaka Phoenix di Jakarta tahun 2008, Diktat mata kuliah Bahasa Yunani Koine Perjanjian Baru, dikarang oleh Daniel Sutoyo diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Theologia “Intheos” di Surakarta.
Sub pokok dalam dalam Injil Matius 24:36-44 adalah:                                       
a.       Allah yang Mengetahui (ayat 36)
Ayat 36 berbunyi peri de tes hemeras ekeines kai horas oudeis oiden oude hoi angeloi ton ouranon oude ho huios ei me ho pater nomos)
Kata tes hemeras terdiri dari kata sandang  tẽs dan kata hemeras. Kata hemeras adalah kata benda berstruktur: modus partisip, kasus genetif,  jenis feminim, jumlah tunggal dari kata dasar  hemera secara literal berarti interval waktu dari matahari terbit sampai matahari terbenam, duabelas jam, sehari, hari itu, cahaya siang hari, dan pada siang hari itu. Menurut Newell, kata waktu berkasus genetif,  menerangkan jenis atau macam waktu itu. Diterjemahkan pada siang hari itu. Sehingga, dalam ayat ini, kata tes hemeras lebih tepat diartikan pada siang hari itu atau interval waktu dari matahari terbit sampai matahari terbenam.
Sistem perhitungan jam Yahudi, yaitu malam dibagi menjadi empat bagian masing-masing lamanya tiga jam : Jaga pertama dihitung mulai matahari terbenam yaitu jam 18:00 - 21:00,  jaga kedua dari jam 21:00-24:00, jaga ketiga dari jam 00:00 - 03:00, jaga keempat dari jam 03:00 - 06:00. Sedangkan siang dibagi menjadi 12 bagian, masing-masing satu jam. Jam 06:00 WIB matahari terbit, jam pertama, jam 07:00 WIB, jam kedua, jam 08:00 WIB, jam ketiga, jam 09:00 WIB, jam keempat, jam 10:00, jam kelima, jam 11:00 WIB, jam keenam, jam 12:00 WIB, jam ketujuh, jam 13:00 WIB, jam kedelapan, jam 14:00 WIB, jam kesembilan, jam 15:00 WIB, jam kesepuluh, jam 16:00 WIB dan jam kesebelas, dan jam 17:00 WIB, jam keduabelas.
Jadi, dapat diketahui bahwa dari jam pertama sampai jam keduabelas  disebut sehari. Jam kedua belas bukan berarti jam 12:00 WIB tetapi jam 18:00 WIB. Dikatakan bahwa hari kedatangan Anak Manusia antara jam 06:00 WIB sampai 18:00 WIB, berarti pada waktu manusia normal berjaga dan bekerja/beraktivitas. Jadi, kedatangan Anak Manusia akan  disaksikan semua orang yang hidup dan menunjukkan singkatnya waktu yang diperlukan untuk kedatangan itu.
Hari Tuhan adalah hari, saat dan waktu tertentu yang Allah untuk datangnya penghakiman. Hari itu ditetapkan dengan pasti dan tidak bisa diubah lagi. Henry (2008) mengatakan bahwa, hari penghakiman Tuhan adalah hari yang ditangguhkan, ketetapan hari yang pasti. Hari dan saat itu merupakan rahasia besar.
Kata oiden adalah kata benda berstruktur: kala perfect, diatesis aktif,  modus indikatif (modus yang menyatakan suatu tindakan kepastian),  kasus nominatif,  orang ketiga, jumlah tunggal dari kata dasar oida secara literal berarti  mempunyai informasi yang lengkap dan menyeluruh di dalam pikiran, pengetahuan yang terencana sempurna, mengerti dengan baik. Ini berarti, hanya Allah yang mengetahui  informasi dengan lengkap dan merencanakan dengan sempurna tentang hari dan saat bahkan jalan atau proses kedatangan Anak Manusia nantinya.
Tidak seorang pun yang tahu tentang hal itu. Orang bijak yang mengetahui segala hikmat, pengetahuan, dan teknologi sekalipun tidak dapat mengetahuinya. Semua orang tahu akan adanya “hari Tuhan/kiamat” tetapi tidak seorang pun yang tahu kapan hal itu akan terjadi.
Para malaikat/utusan/pembawa pesan dari Allah kepada manusia juga tidak tahu akan hari itu. Murdowo menjelaskan, malaikat memiliki keberadaan sebagai roh yang tidak dapat diurai, tidak dapat dilihat (Ibr. 1:14; Luk. 24:39; Ef. 6:12) dan tidak berubah ( Mat.22:30). Di samping itu keberadaan malaikat tidak terikat kepada ruang dan waktu. Namun demikian, malaikat memiliki akal budi, kecerdasan, kecepatan, dan kekuatan untuk berbuat, bergerak dan berbicara (Yud. 6; Luk. 2:9-15; II Tes. 1:7; II Raj. 19:35), akan tetapi dalam semuanya itu malaikat tetap bergantung dan tunduk kepada Allah Penciptanya (Dan. 7:10). Alkitab menyatakan jumlah malaikat sangat banyak bahkan tidak terhitung jumlahnya dalam hitungan manusia (Dan. 7:10; Luk.2:13).
Dalam tugasnya selaku utusan atau pembawa pesan Allah kepada manusia, yaitu mempromosikan berita keselamatan Allah kepada manusia (Luk. 2:13; I Ptr. 1:12; Ef.3:10), memproklamirkan pertobatan manusia (Luk. 15:10), melayani Firman Tuhan kepada manusia (Gal. 3:19; Luk. 2:10-12), melindungi orang-orang percaya (Kej. 48:16), mengingatkan manusia akan Penghakiman Terakhir (I Tes. 4:16),  dan membantu Allah pada Penghakiman Terakhir (Mat. 24:31; 13:41; 25:31; 13:42,50; Mrk. 13:27). Sekalipun malaikat memiliki hubungan yang dekat dengan Allah dan saat “hari” itu tiba,  para malaikat turut berperan aktif, tetapi tentang hari itu, para malaikat tidak tahu. Lucifer juga termasuk para malaikat, sehingga Lucifer  juga tidak pernah tahu tentang hari dan saat itu tiba.
Kata ho huios terdiri dua kata, artikel ho dan kata benda huios berstruktur: kasus nominatif,  jenis maskulin, jumlah tunggal secara literal berarti seorang yang dapat dikenal sebagai anak karena Dia memperlihatkan watak/tabiat dari orangtuanya. Atau dapat disebut sebagai anak yang dewasa rohani yang dipimpin Roh Allah. Anak disini menjelaskan Yesus Kritus anak Allah, yang selalu mencerminkan perbuatan Allah Bapa (Yoh.14:7-11).
Harrisson (2001) mengatakan, kalimat yang mengatakan dan anak pun tidak  menjelaskan bahwa pengetahuan sempurna yang dimiliki Yesus karena Yesus adalah Allah, tidak dipakainya untuk menjelaskan kapan hari itu tiba. Walaupun Yesus adalah Allah, Yesus tidak mengutarakan semua pengetahuan-Nya terutama bagian yang masih harus dirahasiakan sampai waktunya digenapi. Di sini, Yesus bukan membahas kapan tepatnya Yesus datang kembali ke dunia sebagai Raja akan tetapi menjelaskan bahwa Yesus pasti akan datang. Melalui ayat ini, Yesus mengajarkan kepada semua orang percaya bahwa tugas manusia bukan berspekulasi tentang waktu kedatangan-Nya melainkan hanya bersiap diri dan berjaga-jaga.

b.      Seperti Zaman Nuh (ayat 37-39)
Kedatangan-Nya diilustrasikan seperti zaman Nuh ( Kej. 6: 9- 7:1-24; Ptr 3: 19-23).
Ayat 37 berbunyi Hosper gar hai hemerai tou Noe houtos setai he parousia tou hiou tou antropou. Ayat 38, hos gar esan en tais hemerais [ekeinais] tais pro tou kataklusmou trogontes kai pinontes gamountes kai gamizontes akhri hes hemeras eiselthen Noe eis ten . ayat 39, kai ouk egnosan heos elthen ho kataklusmos kai eren apantas houtos estai [kai] he parousia tou huiou tou antropou.
Kata hosper adalah  kata keterangan perbandingan. Kata ini membandingkan keadaan zaman Nuh dengan keadaan akhir zaman ini. Dalam perbandingan, maka akan didapat adanya persamaan dan perbedaannya. Tetapi yang ditekankan lewat perbandingan ini adalah persamaan keadaan zaman Nuh dengan zaman akhir sekarang.nMaksud kedatangan Anak Manusia kelak adalah pasti datang tetapi belum tiba/sampai. Tiba/sampainya bisa kapan saja.
Persamaan antara zaman Nuh dengan akhir zaman ini (kedatangan Anak Manusia) adalah pada zaman sebelum air bah itu semua orang hidup tenang sampai pada hari Nuh masuk kedalam bahtera. Tidak ada yang sadar, sampai pada saat air bah datang sebagai sarana hukuman atas umat mansusia dan melenyapkan semua orang kecuali keluarga Nuh. Manusia menjalani hidup setiap hari tanpa memperdulikan kehancuran yang akan datang, demikian halnya dengan keadaan manusia zaman akhir ini, manusia menjalani hidup setiap hari tanpa memperdulikan peringatan kedatangan Anak Manusia yang bisa terjadi kapan saja.
Persamaan yang lain adalah sama-sama menekankan suatu peringatan akan tiba-tibanya kedatangan bencana itu bagi orang yang tidak siap. Sebagaimana zaman Nuh mengakhiri suatu era dengan hukuman, demikian juga kedatangan Anak Manusia kedua kali nanti  (Kej. 6). Sebaliknya, tiba-tibanya kedatangan air bah dan kedatangan Anak Manusia itu menjadi penghiburan bagi keluarga Nuh dan bagi orang yang terus berjaga-jaga di akhir zaman
Kata pinontes berstruktur: kala kini, modus partisipel, kasus nominatif,  jenis maskulin, jumlah jamak, secara literal berarti mereka  (laki-laki) sedang peminum/mereka (laki-laki) sedang minum. Para lelaki zaman Nuh hanya berpikir dan melakukan sesuatu hanya untuk minum dan minum, tidak ada tujuan hidup yang lain, menghalalkan segala cara agar dapat memuaskan kebutuhan jasmani.
Kata gamountes berstruktur: kala kini, modus partisipel, kasus nominatif, jenis maskulin, jumlah jamak  dari kata dasar gameo secara literal berarti mereka (laki-laki) sedang melakukan pernikahan/mereka (laki-laki) sedang menikah. Para lelaki zaman Nuh sedang berpikir dan bertindak hanya untuk menikah. Pernikahan adalah hal yang biasa dilakukan, baik dilakukan dengan kemauan sendiri ataupun dari dorongan orang lain. Pernikahan yang direncanakan maupun yang tidak direncanakan. Pernikahan yang lazim atau tidak lazim. Pernikahan bebas, yaitu pernikahan dengan  mengkompromikan prinsip-prinsip Allah seperti menikah dengan pasangan dari agama kafir, melakukan pernikahan lebih dari sekali (poligami dan poliandri), menikah dengan sesama jenis atau dengan binatang, hidup serumah dengan pria/wanita yang tidak diikat dengan pernikahan dan kawin dulu lalu menikah. Pernikahan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, sebab pernikahan tersebut merupakan pernikahan yang hendak memuaskan keinginan dari diri sendiri, hanya kepuasan sesaat.
Kata kerja dan kata sifat  makan dan minum, melakukan pernikahan, menikahi dan dinikahkan menyiratkan bahwa semua manusia saat itu kecuali Nuh,  penuh perhatian dalam urusan dunia dan tidak menghiraukan Firman Allah. Saat itu, seluruh dunia tidak peduli dengan agama atau kehidupan rohani. Ini sungguh merupakan gejala yang lebih berbahaya daripada satu-dua orang kafir.
Kata egnosan berstruktur: kala aorist 2, diatesis aktif, modus indikatif, dari orang ketiga, jumlah jamak dari kata dasar ginosko secara literal berarti mereka dulu pernah mengetahui, menyadari, belajar, memperhatikan, peduli. Di depan kata ini ada kata ouk berupa kata keterangan negatif secara literal berarti tidak. Jika kedua kata di atas digabungkan berarti, informasi sudah disampaikan dengan jelas dan berulang-ulang sehingga mereka pasti sudah memahami dan mengetahuinya dengan jelas, namun mereka memilih bersikap acuh tak acuh, tidak meresponinya dengan baik dan serius.
Golongan manusia yang pertama tidak mau mengindahkan peringatan, tidak mau tahu,tidak belajar peringatan yang disampaikan terus-menerus dan  mengesampingkan perkara kekekalan, merasa aman dan bersikap tidak peduli sehingga saat air bah datang, orang-orang fasik itu terkejut dan binasa. Kata “tidak tahu akan sesuatu” juga menyiratkan golongan manusia ini tidak percaya. Seharusnya golongan ini sudah tahu akan hal itu, tetapi tidak mau tahu. Golongan manusia yang pertama ini sebagai contoh orang Kristen di zaman akhir yang sudah mengetahui hal-hal yang perlu untuk damai sejahtera yang kekal, tetapi tidak mengimani dan mengembangkannya. Hal ini sama saja dengan tidak mengetahuinya sama sekali ( II Tim 3:1-7)

c.       Dibawa dan Ditinggalkan (ayat 40-41)
Ayat 40-41 berbunyi tote duo esontai en to agro heis paralambanetai kai heis aphietai. Duo alethousai en to mulo mia paralambanetai kai mia aphietai.
Kata paralambanetai berstruktur: kala kini, diatesis pasif, modus indikatif (modus yang menyatakan suatu tindakan kepastian), orang ketiga, jumlah tunggal dari kata dasar paralambano secara literal berarti  dia sedang dibawa berangkat, diangkat keluar, dipunyai. Kata ini menjelaskan bahwa saat Anak Manusia datang, akan terjadi bahwa orang yang terpilih akan diangkat, dipisahkan dari orang yang tidak terpilih. Kata ini adalah kata umum bukan istilah untuk menjelaskan ajaran Alkitab tentang pengangkatan.
Kata aphietai berstruktur: kala kini, diatesis pasif, modus indikatif, orang ketiga, jumlah tunggal dari kata dasar aphiemi secara literal berarti dia sedang diabaikan, ditinggalkan sendiri, diusir, dipecat, ditolak, dikeluarkan dan menderita oleh karena kepergian/keberangkatan. Orang kedua yang tidak diangkat, menyaksikan orang pertama yang telah diangkat sehingga orang kedua ini  tahu kalau dia ditinggalkan, diabaikan, ditolak. Henry (2008) mengatakan, kejadian ini semakin memperburuk hukuman dan kepedihan orang-orang berdosa karena orang berdosa tersebut melihat bahwa sementara saudaranya dibawa menuju kemuliaan, dirinya sendiri ditinggalkan begitu saja.
Ayat ini menekankan ketakterdugaan bagi orang percaya zaman gereja. Guthrie (1983) mengatakan, kedatangan Kristus yang kedua ini akan memisahkan orang-orang yang lahiriah kelihatan sama dan sedang sama-sama bekerja. Manusia  yang berada di zaman, tempat, kemampuan, pekerjaan, dan keadaan yang sama di dunia ini. Dari orang yang berada dalam satu keluarga, bahkan yang diikat dalam ikatan pernikahan, hanya seorang yang akhirnya diangkat sedangkan yang satunya lagi dilewatkan dan ditinggalkan dalam kepedihan yang mendalam.

d.      Berjaga-jaga (ayat 42)
Ayat 42 berbunyi gregoriete oun hoti ouk oidate poia hemera ho kurios humon erkhetai.
Kata  gregoriete berstruktur: kala kini,  diatesis aktif, modus imperatif (kata kerja – kata sifat), orang kedua, jumlah jamak dari kata dasar gregoreo secara literal berarti kamu sekalian sedang berjaga, bangun, menjadi waspada, berjaga-jaga, awas, hati-hati.
Kata ho kurios terdiri dari kata sandang ho dan kata kurios. Kata kurios berstruktur: kasus nominatif, jenis maskulin, jumlah tunggal dari kata dasar kurios secara literal berarti Tuan yang mulia Yesus Kristus, Tuhan yang mulia Yesus Kristus. Kata ini menekankan bahwa Yesus Kristus adalah tuan manusia. Dengan jabatan-Nya itu, saat Yesus datang, akan meminta pertanggungjawaban manusia atas segala milik yang dipercayakan-Nya kepada tiap-tiap orang. ini
Stamps mengatakan, kata ini menunjukkan keadaan siap siaga terus-menerus pada masa sekarang. Alasan untuk kesiagaan ini sekarang dan bukannya pada masa yang akan datang karena tidak ada tanda peringatan akan kedatangan-Nya. Sehingga tidak boleh menganggap bahwa Kristus tidak mungkin datang hari ini.

e.       Seperti Kedatangan Pencuri (ayat 43-44)
Ayat 43-44 berbunyi Ekeino de ginoskete hoti ei edei ho oikodespotes poia phulake ho kleptes erkhetai, egregoresen an kai ouk an eiasen diarukhthenai ten oikian autau).Dia touto kai humeis ginesthe etoimoi hoti he ou dokeite hora ho huios tou antropou erkhetai).
Kata ginoskete berstruktur: kala kini,  diatesis aktif, modus indikatif , orang kedua, jumlah jamak dari kata dasar ginosko secara literal berarti engkau sekalian sedang mengetahui dengan pasti, memperhatikan, memahami, menyadari. Ayat menjelaskan bahwa Yesus sedang menggunakan ilustrasi yang benar-benar dipahami oleh pendengarnya saat itu.
Dari ayat ini diketahui bahwa, setiap rumah saat itu mempunyai kepala rumah tangga (seorang ayah), jika rumah itu adalah rumah orang kaya, maka rumah itu memiliki kepala pembantu yang mengurusi pekerjaan rumah tangga, misalnya Yusuf di rumah Potifar (Kej. 39:4). Menurut penulis, kata oikodespotes di sini lebih tepat diartikan kepala/tuan rumah karena pencuri akan berusaha memasuki rumah yang memiliki banyak harta yang berharga.
Kata ho kleptes terdiri dari kata sandang ho dan kata kleptes.  Kata benda kleptes berstruktur: kala kini, kasus nominatif, jenis maskulin, jumlah tunggal dari kata dasar klepto secara literal berarti seorang (laki-laki) yang memiliki sifat mengambil milik orang lain/ seorang (laki-laki) yang pekerjaannya sebagai perampok, laki-laki sedang . merampok.
Seorang pencuri tidak mengirim surat pemberitahuan kapan dia akan mencuri di sebuah rumah. Senjata utama untuk mencuri adalah kejutan. Karena itu, seorang pemilik rumah yang mempunyai barang-barang berharga di rumahnya harus selalu menjaganya.
Harrison mengatakan, rumah di Palestina saat itu terbuat dari bata jemuran, sehingga mudah untuk di gali tembus dindingnya . Terlepas dari identitas pelaku pencuri itu, jika sampai pencuri memasuki sebuah rumah atau membongkar sebuah rumah, maka pemilik rumah akan menderita kerugian. Kejadian pencurian tidak selalu terjadi setiap saat. Apabila tuan rumah itu waspada, maka pasti dapat mencegah terjadinya kerusakan dan kehilangan.

f.       Siap Sedia (ayat 44)
Ayat 44 berbunyi dia tou kai umei gineske toimoi o oundokei te hora  ho angerou pou percetai.
Kata ginesthe berstruktur: kala kini, diatesis medial, modus imperatif (modus yang menyatakan suatu tindakan karena perintah), orang kedua, jumlah jamak dari kata dasar ginomai secara literal berarti kamu sekalian harus sedang melaksanakan, mempunyai, berubah.
Kata etoimoi berstruktur: kasus nominatif , jenis maskulin, jumlah jamak dari kata dasar etoimos secara literal berarti bersiap, yang tersedia, yang sudah siap.
Kata dokeite berstruktur: kala kini, modus indikatif  (modus yang menyatakan suatu tindakan kepastian, sering dalam kalimat berita), orang kedua, jumlah jamak dari kata dasar dokeo secara literal berarti kamu sekalian sedang mengira itu tampaknya menyenangkan/itu tampaknya baik, itu tampaknya terbaik/itu tampaknya benar. Kata ini bergandengan dengan kata hora adalah  kata benda  dasar diterjemahkan pembagian batas waktu, tempo dari ke-12 jam pembagian waktu Yahudi, saat, tempo waktu yang singkat. Jika kedua kata ini digabungkan maka berbunyi saat itu tiba disaat kamu sekalian sedang mengira saat yang tampaknya menyenangkan/saat yang  tampaknya baik, saat yang tampaknya terbaik/ saat yang tampaknya benar. Kedua kata di atas bergandengan dengan kata ou berupa partikel negatif diterjemahkan tidak.   Jadi, jika ketiga kata di atas digabungkan, maka akan berbunyi saat, jam, tempo itu tiba disaat kamu sekalian sedang tidak mengira karena waktu itu tampaknya menyenangkan atau baik atau benar. Dari ketiga kata di atas, didapat bahwa kedatangan Anak Manusia benar-benar mengejutkan karena semua orang tidak menduga akan terjadi saat itu.
Kata erkhetai berstruktur: kala kini, diatesis medial, modus indikatif  (modus yang menyatakan suatu tindakan kepastian, sering dalam kalimat berita), orang ketiga, jumlah tunggal dari kata dasar erkhomai secara literal berarti dia sedang  datang/tiba.
Tidak ada gunanya orang percaya berjaga-jaga bila tidak berada dalam keadaan siap sedia. Tidak cukup orang percaya hanya menantikan semuanya ini, orang percaya juga harus berusaha ( 2 Ptr, 3:11, 14). Orang percaya harus mengikuti Kristus, harus menjaga agar pelitanya selalu siap sedia dan bersih. Perkara semua orang akan diuji, dan harus menyediakan pembelaan untuk ditandatangani oleh Kristus. Perhitungan akan dilakukan dan pembukuan harus disiapkan dan seimbang. Ada warisan yang menjadi pengharapan orang percaya dan orang percaya harus menyiapkan diri agar layak mengambil bagian di dalamnya (Kol. 1:12).

b.      Kedatangan Tuhan Yang Kedua Kali (Pembahasan)
Berdasarkan tafsiran di atas, maka ditemukankan prinsip-prinsip teologi hari kedatangan Tuhan yang kedua kali yang akan diuraikan sebagai berikut:
1)      Prinsip: Kedaulatan Allah (ayat 36)
Prinsip penting yang ditemukan dalam ayat ini adalah sebagai berikut:
Pertama: manusia dari segala zaman tidak ada yang tahu tentang hari dan saat kedatangan Anak Manusia. Sekalipun manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, yang memiliki hikmat dan pengertian.
Kedua: para malaikat juga tidak ada yang tahu. Sekalipun para malaikat adalah ciptaan Allah yang berbentuk roh dan kekal adanya, dikaruniai pengetahuan yang luas dan selalu berada di sekitar Allah.
Ketiga: saat Anak Manusia berada di bumi, Anak Manusia itu tidak pernah mengatakan kapan hari dan saat itu tiba sebab bagian itu masih harus dirahasiakan sampai waktunya digenapi.
Keempat, hanya Allah yang mengetahui kapan hari  dan saat itu tiba.

2)        Prinsip: Keduniawian (ayat 37-39)
Prinsip penting yang ditemukan dalam perikop ini adalah sebagai berikut:
Pertama: keadaan manusia pada zaman Nuh tidak berbeda dengan keadaan manusia menjelang Anak Manusia datang.
Kedua: seperti zaman Nuh, ditemukan lebih banyak manusia yang terlena daripada yang berjaga-jaga. Manusia berfokus hanya kepada hal-hal lahiriah saja. Terpikat dengan hal-hal yang kelihatan dan yang ada pada saat sekarang sehingga tidak mempunyai waktu dan hati untuk memikirkan hal-hal yang belum kelihatan yang telah diperingatkan sebelumnya. Rasa aman dunia membuat manusia semakin meningkatkan pemuasan hawa nafsu tubuh.
Ketiga: seperti zaman Nuh, air bah itu benar-benar datang, meskipun kebanyakan manusia saat itu tidak ingin memperkirakannya. Hari Tuhan yang akan datang tidak akan berada lebih jauh dari manusia yang menghindarinya.
Keempat: di zaman Nuh, kebanyakan manusia tidak mengetahui hal itu sampai sudah terlambat untuk dicegah. Oleh karena itu, orang percaya di zaman akhir harus segera menanggapi peringatan Yesus ini sebelum terlambat untuk dicegah. Henry (2008) mengatakan, penghakiman biasanya terasa sangat mengerikan dan luar biasa bagi orang-orang yang merasa aman-aman saja dan bagi orang yang suka mengolok-olok penghakiman itu.

3)        

 
Prinsip: Dibawa Dan Ditinggalkan  (ayat 40-41)
Prinsip penting yang ditemukan dalam perikop ini adalah sebagai berikut:
Pertama: di saat Anak Manusia datang, akan terjadi pemisahan di bumi. Ada golongan manusia yang dibawa dan ada golongan manusia yang ditinggalkan.
Kedua: pemisahan tidak dijalankan berdasarkan ciri-ciri lahiriah tetapi berdasarkan pengetahuan Allah tentang manusia. Sekalipun umat Tuhan bercampur-baur dengan orang lain, terkait dengan hubungan darah, keluarga, pernikahan, pekerjaan, tempat tinggal, masyarakat dan negara, Allah  mengetahui siapa yang akan dibawa dan ditinggalkan.
Ketiga: pengadilan Allah adalah bersifat pribadi. Kemesraan dengan seseorang tidak menjamin keselamatan diri sendiri. Tidak ada seorangpun dapat membebaskan saudaranya.

4)         Tetap Berjaga-jaga (ayat 42)
Prinsip penting yang ditemukan dalam ayat ini adalah, sebagai berikut:
Pertama: orang percaya wajib dan harus selalu berjaga-jaga dan siap sedia. Ini merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
Kedua: berjaga-jaga di sini khususnya untuk dua hal yaitu kematian yang pasti akan dialami semua manusia. Kedua, kedatangan-Nya pada akhir zaman yang disebut “hari Tuhan.” Manusia tidak tahu kapan kematiannya tiba (Kej. 27:2). Manusia bisa tahu bahwa waktu hidupnya hanya sebentar atau saat kematiannya sudah dekat (2 Tim. 4:6). Tetapi, manusia tidak tahu apakah manusia diberi waktu yang lama atau singkat untuk hidup di dunia ini. Karena bisa saja lebih singkat dari yang manusia itu harapkan.

5)         Datang dengan Mengejutkan (ayat 43-44)
Prinsip penting  yang  ditemukan dalam perikop ini adalah, sebagai berikut:
Pertama: pengulangan peringatan agar tetap berjaga-jaga mengingat Anak Manusia akan datang pada waktu yang tidak disangka-sangka dan tidak terduga.
Kedua: orang percaya yang bijaksana diumpamakan seperti tuan rumah. Hari Tuhan diumpamakan seperti pencuri. Saat tuan rumah tahu ada baahya, maka tuan rumah itu langsung berjaga-jaga.
Ketiga: Pencuri akan mencari waktu lengah tuan rumah dan penjaganya. Oleh karena itu, tuan rumah wajib dan harus berjaga-jaga setiap saat, tidak boleh lengah walau sedetikpun. Bila Anak Manusia datang dan mendapati orang percaya sedang tertidur dan tidak dalam keadaan siap siaga, rumahnya akan dibongkar dan akan kehilangan semua miliknya yang berharga. Lea (1991) mengatakan, orang percaya harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, sehingga dapat membuat perlawanan pada hari yang jahat ini. Orang percaya yang bijaksana akan selalu memperhatikan keadaan rohaninya. Menutup semua celah, agar Iblis tidak masuk membuatnya tertidur ditengah dunia yang gelap ini.

3.      Simpulan Dan Saran
a.      Simpulan
Penulis menarik kesimpulan menggunakan metode induktif.  Adapun premis-premis itu sebagai berikut:
Pertama, kedaulatan Allah. Bahwa hari Tuhan adalah salah satu dari hal-hal tersembunyi yang menjadi kepunyaan Tuhan. Hal ini mengajarkan kepada orang percaya bahwa Allah yang berdaulat yang mengawali dan mengakhiri dunia ini. Dengan hikmat-Nya, Allah mengatur dengan tepat kapan hari itu tiba. Manusia tidak berhak memaksakan kehendaknya untuk mengetahui kapan hari itu tiba.
Kedua, keduniawian. Seperti zaman Nuh, di akhir zaman ini ditemukan dua golongan manusia, yaitu golongan manusia yang suka memuaskan hawa nafsu tubuh dan hidup dalam keduniawian. Golongan manusia yang makan dan minum, melakukan pernikahan, menikahi dan dinikahkan. Dan yang kedua, Golongan manusia yang Takut akan Tuhan, yaitu Nuh dan keluarganya.
Ketiga, pemisahan. Pada saat Anak Manusia datang, akan ada golongan yang dibawa dan ada golongan manusia yang ditinggalkan. Pemisahan tidak dijalankan berdasarkan ciri-ciri lahiriah tetapi berdasarkan pengetahuan Allah tentang hati manusia.
Keempat, tetap berjaga-jaga. Kristus menghimbau kepada semua orang percaya untuk wajib dan harus selalu berjaga-jaga dan siap sedia. Ini merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Sebab manusia tidak tahu pada hari mana Tuhan akan datang secara umum ( ay. 42) dan manusia tidak tahu kapan kematiannya tiba (Kej. 27:2).
Kelima, datang dengan mengejutkan. Hari Tuhan akan datang dengan tiba-tiba, seperti pencuri pada waktu malam. Kristus memilih datang pada saat yang paling tidak terduga dan mendapati orang percaya sedang tertidur dan tidak dalam keadaan siap siaga, rumahnya akan dibongkar dan pasti kehilangan semua miliknya yang berharga.
Berdasarkan premis-premis di atas, penulis menyimpulkan bahwa hari kedatangan Tuhan yang kedua kali yang diberikan oleh Matius 24:36-44 adalah tentang hari dan saat itu adalah kedaulatan Allah, jangan terlena dengan hidup keduniawian, saat Tuhan datang akan terjadi pemisahan, seorang dibawa dan yang seorang ditinggalkan, oleh karena itu orang percaya harus senantiasa berjaga-jaga karena hari Tuhan datang dengan tiba-tiba dan mengejutkan.

b.      Saran
Melalui artikel ini, penulis memberikan saran-saran kepada:       
Pertama, kepada para hamba Tuhan agar senantiasa semakin giat dalam pekerjaan Tuhan menjelang Tuhan datang.
Kedua, kepada mahasiswa/mahasiswi Teologi agar semakin sungguh-sungguh meresponi panggilan Tuhan karena Tuhan akan segera datang.
Ketiga, kepada semua orang percaya agar kembali memperhatikan kehidupan rohani masing-masing pribadi, meluruskan tujuan hidup, kembali berjaga-jaga dan siap sedia. Kemudian, tidak berspekulasi tentang kapan hari itu tiba. Sekaligus tidak mempercayai ramalan, buku, film, dan spekulasi siapapun yang mencoba meyakinkan bahwa Anak Manusia akan datang pada hari dan jam sekian.

Daftar Pustaka

Balz, Horst and Gerhard Schneider, Exegetical Dictionary of The New Testament. Michigan: William B Eerdmans Publishing Company Grand Rapids, 1994.

Baker, Anton dan Zubair Ahmad. Metodologi Penelitian Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1990.

Barclay, William, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Pasal 1-10 Jakarta: BPk Gunung Mulia, t.th.

Barclay, William, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Matius Pasal 11-28. Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2009.

Chapman, Adina. Pengantar Perjanjian Baru, 3 Jilid. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Danduma, Yulis, Ucapan Bahagia Dalam Matius 5:3-12 Merupakan Sikap Menanggulangi Gaya Hidup Aliran Hedonisme Surakarta: STT Intheos, 2008.

Dosen, Dewan. Panduan Karya Tulis Ilmiah. Surakarta: Sekolah Tinggi Teologi, 2007. 

F. BrowningM W.R, Kamus Alkitab Jakarta: Gunung Mulia, 2007.

Guthrie, Donald. Tafsiran Alkitab Masa Kini, 3. Jakarta: Yayasan Koomunikasi Bina Kasih/ OMF, 1983.

Harrison, F. Everett. Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume III. Malang: Gandum Mas,

Heer, JJ De, Tafsiran Alkitab Injil Matius Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.

Henry, Matthew, Tafsiran Injil Matius 15-28 Surabaya: Momentum, 2008.

M. Dunnet, Walter,  Pengantar Perjanjian Baru Malang: Gandum Mas, 1984.

Murdowo, Joko, Diktat Mata Kuliah Angelologi Surakarta: STT “Intheos”, t. th.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar